BUDIDAYA SINGKONG NASA
Target Panen 150 TON/Hektar
Singkong atau Ketela Pohon mempunyai nilai Ekonomi tinggi selain menjadi Bahan Baku tepung, Benang, serta makanan olahan lainnya juga dapat di gunakan untuk bahan
energi alternatif. Di Lapangan Budidaya
Singkong masih mengandalkan cara cara Tradisional sehingga hasil Panen masih rendah.
Budidaya Singkong atau Ketela
Pohon dengan memakai Tehnologi Organik Nasa terbukti telah meningkatkan Hasil Panen(bisa dilihat di vcd Kesaksian).
1. PEMBIBITAN SINGKONG
a. Bibit berupa stek batang
b. Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai setengah
c. Setelah stek terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara 25 – 30 batang stek.
d. Semua ikatan stek yang dibutuhkan, kemudian diangkut kelokasi penanaman.
2. PENGOLAHAN MEDIA TANAM SINGKONG
Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti
pembersihan tanaman liar maupun
sehatnya pertumbuhan tanaman.
3. PENANAMAN SINGKONG
3.1. Penentuan Pola Tanam
Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi.
Jarak tanam yang umum digunakan pada pola monokultur ada beberapa alternatif yaitu :
100 x 100 cm, 100 x 60 cm atau 100 x
40 cm.
Bila pola tanam dengan sistem
tumpang sari bisa dengan jarak tanam 150 x 100 cm atau 150 x 150 atau 200 x 150 cm.
3.2. Cara Penanaman
Cara penanaman dilakukan dengan
meruncingkan ujung bawah stek ketela
pohon, kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja. Sebelum bibit ditanam disarankan agar
bibit direndam terlebih dahulu dengan
pupuk Organik Nasa yakni PocNasa+ Hormonik yang telah dicampur dengan air selama 3-4 jam. Setelah itu baru dilakukan penanaman dilahan hal ini sangat bagus untuk pertumbuhan dari bibit.
4. PEMUPUKAN SINGKONG
Sistem pemupukan menggunakan teknologi Organik Nasa , dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia/anorganik sampai dengan 50%, adapun cara pemupukannya
adalah sebagai berikut :
1. Berikan pupuk kandang/kompos disetiap lubang yang akan ditanami bibit kebutuhan untuk 1 hektar sebanyak 5 ton atau 5.000 kg.
2. 3 hari sebelum tanam diberikan 3 kg SuperNasa per hektar dengan campuran setiap 1 Kg Supernasa dicampur/dilarutkan dengan air max 200 liter (jumlah air tidak harus 200 liter boleh kurang asal cukup untuk 1 hektar) disemprotkan pada lahan secara merata disarankan disemprotkan pada pupuk kandang/kompos agar fungsi dari pupuk kandang/kompos lebih maksimal.
3. Setelah 3 hari bibit / stek siap ditanam
4. 5 hari setelah tanam berikan campuran pupuk NPK dengan dosis Urea : 50 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg SUPERNASA = 3-6 kg POC NASA = 3-6Ltr dan HORMONIK = 500Ml-1Ltr pada lahan 1 hektar, atau supernasa diganti POP Granule dengan dosis 50Kg/Hektar.
1 pohon diberikan campuran sebanyak ± 20 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10cm.
5. Pemberian Organik Cair Nasa selanjutnya pada saat tanaman singkong berumur 2 bulan : 3 liter, umur 4 bulan : 3 liter, umur 6 bulan : 3 liter.
6. Pemberian pupuk anorganik selanjutnya pada umur tanaman 60-90 hari berupa campuran pupuk NPK dengan dosis Urea :
85 kg, dan KCL : 85 kg, POWERNUTRITION = 3-6 kg POC NASA = 3-6Ltr dan HORMONIK = 500Ml-1Ltr Asumsi bila 1 hektar lahan ditanam 5.000 pohon berarti 1 pohon diberikan NPK sebanyak ± 20 gram dengan
cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari
tanaman dengan kedalaman 10cm.
7. Penyemprotan untuk luas 1000 m2, rata-2 menghabiskan 3 tangki (berkisar 2-4 tangki vol. ± 15 ltr. Penyemprotan HORMONIK 2 tutup dicampur dengan POC NASA 4 – 6 tutup per tanki semprot ke tanaman Singkong umur 1, 2, 3 dan 4 bulan.
6. PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN SINGKONG
Kondisi lahan ketela pohon dari awal tanam sampai umur ± 4-5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek.
Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram
langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. System yang baik digunakan adalah system genangan sehingga air dapat sampai kedaerah perakaran secara resapan.
Pengairan dengan system genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.
7. WAKTU PENYEMPROTAN
PESTISIDA/INSEKTISIDA
HAMA DAN PENYAKIT
Hama
a.Uret (Xylenthropus)
· Ciri: berada dalam akar dari tanaman
· Gejala: tanaman mati pada yg usia muda, karena akar batang dan umbi rusak
· Pengendalian: bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam, sebar dedak halus yang telah dicampur PESTONA pada saat pengolahan lahan atau semprotkan PESTONA langsung ke lahan setiap 2-4 minggu sekali
b.Tungau merah (Tetranychus bimaculatus)
· Ciri: menyerang pada permukaan bawah daun dengan menghisap cairan daun
· Gejala: daun akan menjadi kering
· Pengendalian:menanam varietas toleran dan Semprotkan PENTANA.
Penyakit
a.Bercak daun bakteri
· Penyebab: Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight/CBG
· Gejala: bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan mengakibatkan pada daun kering dan akhirnya mati
· Pengendalian:menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun, semprot Natural GLIO sebagai pencegahan
b.Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith)
· Ciri: hidup di daun, akar dan batang.
· Gejala: daun yang mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang dan umbi langsung membusuk
· Pengendalian: melakukan pergiliran
tanaman, menanam varietas yang tahan, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat serta sebarkan Natural GLIO yang sudah dicampur Pupuk Kandang matang atau kompos sebelum
tanam sebagai pencegahan
c.Bercak daun coklat (Cercospora heningsii)
· Penyebab: jamur atau cendawan yang hidup di dalam daun
· Gejala: daun bercak-bercak coklat,
mengering,lubang-lubang bulat kecil dan jaringan daun mati
· Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.
d.Bercak daun konsentris (Phoma
phyllostica)
· Penyebab: cendawan yang hidup pada daun.
· Gejala: adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda
· Pengendalian:memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian tanaman yang sakit .
P A N E N
· Ketela pohon dapat dipanen pada saat
pertumbuhan daun bawah mulai berkurang
· Warna daun mulai menguning dan
banyak yang rontok
· Umur panen tanaman ketela pohon telah
mencapai 6–8 bulan untuk varietas Genjah
dan 9–12 bulan untuk varietas Dalam
· Ketela pohon dipanen dengan cara
mencabut batangnya dan umbi yang
tertinggal diambil dengan cangkul atau
garpu tanah
· Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang
cukup strategis, aman dan mudah dijangkau
oleh angkutan
· Pemilihan atau penyortiran umbi ketela
pohon sebenarnya dapat dilakukan pada
saat pencabutan berlangsung
Budidaya Singkong diatas semoga
bermanfaat,Majulah Petani Indonesia
Semangat Pagi…
Target Panen 150 TON/Hektar
Singkong atau Ketela Pohon mempunyai nilai Ekonomi tinggi selain menjadi Bahan Baku tepung, Benang, serta makanan olahan lainnya juga dapat di gunakan untuk bahan
energi alternatif. Di Lapangan Budidaya
Singkong masih mengandalkan cara cara Tradisional sehingga hasil Panen masih rendah.
Budidaya Singkong atau Ketela
Pohon dengan memakai Tehnologi Organik Nasa terbukti telah meningkatkan Hasil Panen(bisa dilihat di vcd Kesaksian).
1. PEMBIBITAN SINGKONG
a. Bibit berupa stek batang
b. Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai setengah
c. Setelah stek terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara 25 – 30 batang stek.
d. Semua ikatan stek yang dibutuhkan, kemudian diangkut kelokasi penanaman.
2. PENGOLAHAN MEDIA TANAM SINGKONG
Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti
pembersihan tanaman liar maupun
sehatnya pertumbuhan tanaman.
3. PENANAMAN SINGKONG
3.1. Penentuan Pola Tanam
Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi.
Jarak tanam yang umum digunakan pada pola monokultur ada beberapa alternatif yaitu :
100 x 100 cm, 100 x 60 cm atau 100 x
40 cm.
Bila pola tanam dengan sistem
tumpang sari bisa dengan jarak tanam 150 x 100 cm atau 150 x 150 atau 200 x 150 cm.
3.2. Cara Penanaman
Cara penanaman dilakukan dengan
meruncingkan ujung bawah stek ketela
pohon, kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja. Sebelum bibit ditanam disarankan agar
bibit direndam terlebih dahulu dengan
pupuk Organik Nasa yakni PocNasa+ Hormonik yang telah dicampur dengan air selama 3-4 jam. Setelah itu baru dilakukan penanaman dilahan hal ini sangat bagus untuk pertumbuhan dari bibit.
4. PEMUPUKAN SINGKONG
Sistem pemupukan menggunakan teknologi Organik Nasa , dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia/anorganik sampai dengan 50%, adapun cara pemupukannya
adalah sebagai berikut :
1. Berikan pupuk kandang/kompos disetiap lubang yang akan ditanami bibit kebutuhan untuk 1 hektar sebanyak 5 ton atau 5.000 kg.
2. 3 hari sebelum tanam diberikan 3 kg SuperNasa per hektar dengan campuran setiap 1 Kg Supernasa dicampur/dilarutkan dengan air max 200 liter (jumlah air tidak harus 200 liter boleh kurang asal cukup untuk 1 hektar) disemprotkan pada lahan secara merata disarankan disemprotkan pada pupuk kandang/kompos agar fungsi dari pupuk kandang/kompos lebih maksimal.
3. Setelah 3 hari bibit / stek siap ditanam
4. 5 hari setelah tanam berikan campuran pupuk NPK dengan dosis Urea : 50 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg SUPERNASA = 3-6 kg POC NASA = 3-6Ltr dan HORMONIK = 500Ml-1Ltr pada lahan 1 hektar, atau supernasa diganti POP Granule dengan dosis 50Kg/Hektar.
1 pohon diberikan campuran sebanyak ± 20 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10cm.
5. Pemberian Organik Cair Nasa selanjutnya pada saat tanaman singkong berumur 2 bulan : 3 liter, umur 4 bulan : 3 liter, umur 6 bulan : 3 liter.
6. Pemberian pupuk anorganik selanjutnya pada umur tanaman 60-90 hari berupa campuran pupuk NPK dengan dosis Urea :
85 kg, dan KCL : 85 kg, POWERNUTRITION = 3-6 kg POC NASA = 3-6Ltr dan HORMONIK = 500Ml-1Ltr Asumsi bila 1 hektar lahan ditanam 5.000 pohon berarti 1 pohon diberikan NPK sebanyak ± 20 gram dengan
cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari
tanaman dengan kedalaman 10cm.
7. Penyemprotan untuk luas 1000 m2, rata-2 menghabiskan 3 tangki (berkisar 2-4 tangki vol. ± 15 ltr. Penyemprotan HORMONIK 2 tutup dicampur dengan POC NASA 4 – 6 tutup per tanki semprot ke tanaman Singkong umur 1, 2, 3 dan 4 bulan.
6. PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN SINGKONG
Kondisi lahan ketela pohon dari awal tanam sampai umur ± 4-5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek.
Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram
langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. System yang baik digunakan adalah system genangan sehingga air dapat sampai kedaerah perakaran secara resapan.
Pengairan dengan system genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.
7. WAKTU PENYEMPROTAN
PESTISIDA/INSEKTISIDA
HAMA DAN PENYAKIT
Hama
a.Uret (Xylenthropus)
· Ciri: berada dalam akar dari tanaman
· Gejala: tanaman mati pada yg usia muda, karena akar batang dan umbi rusak
· Pengendalian: bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam, sebar dedak halus yang telah dicampur PESTONA pada saat pengolahan lahan atau semprotkan PESTONA langsung ke lahan setiap 2-4 minggu sekali
b.Tungau merah (Tetranychus bimaculatus)
· Ciri: menyerang pada permukaan bawah daun dengan menghisap cairan daun
· Gejala: daun akan menjadi kering
· Pengendalian:menanam varietas toleran dan Semprotkan PENTANA.
Penyakit
a.Bercak daun bakteri
· Penyebab: Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight/CBG
· Gejala: bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan mengakibatkan pada daun kering dan akhirnya mati
· Pengendalian:menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun, semprot Natural GLIO sebagai pencegahan
b.Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith)
· Ciri: hidup di daun, akar dan batang.
· Gejala: daun yang mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang dan umbi langsung membusuk
· Pengendalian: melakukan pergiliran
tanaman, menanam varietas yang tahan, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat serta sebarkan Natural GLIO yang sudah dicampur Pupuk Kandang matang atau kompos sebelum
tanam sebagai pencegahan
c.Bercak daun coklat (Cercospora heningsii)
· Penyebab: jamur atau cendawan yang hidup di dalam daun
· Gejala: daun bercak-bercak coklat,
mengering,lubang-lubang bulat kecil dan jaringan daun mati
· Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.
d.Bercak daun konsentris (Phoma
phyllostica)
· Penyebab: cendawan yang hidup pada daun.
· Gejala: adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda
· Pengendalian:memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian tanaman yang sakit .
P A N E N
· Ketela pohon dapat dipanen pada saat
pertumbuhan daun bawah mulai berkurang
· Warna daun mulai menguning dan
banyak yang rontok
· Umur panen tanaman ketela pohon telah
mencapai 6–8 bulan untuk varietas Genjah
dan 9–12 bulan untuk varietas Dalam
· Ketela pohon dipanen dengan cara
mencabut batangnya dan umbi yang
tertinggal diambil dengan cangkul atau
garpu tanah
· Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang
cukup strategis, aman dan mudah dijangkau
oleh angkutan
· Pemilihan atau penyortiran umbi ketela
pohon sebenarnya dapat dilakukan pada
saat pencabutan berlangsung
Budidaya Singkong diatas semoga
bermanfaat,Majulah Petani Indonesia
Semangat Pagi…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar